24 August 2011

Renungan Indah - W.S. Rendra (Alm.)



Seringkali aku berkata,
      Ketika semua orang memuji milikku

      Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
      Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
      Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
      Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
      Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

      Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
      Mengapa Dia menitipkan padaku ?
      Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
      Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
      Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

      Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
      Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
      Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
      Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
      Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

      Aku ingin lebih banyak harta,
      ingin lebih banyak mobil,
      lebih banyak popularitas, dan
      kutolak sakit,
      kutolak kemiskinan,
      seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

      Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
      Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap     menghampiriku.

      Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
      Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
      Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

      Gusti,
      Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
      "Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang RS)


*terima kasih buat yang udah kasih ijin CoPas*
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature