22 January 2015

Teman Tapi Sahabat


Di suatu hari di bulan Februari

Aku tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan untuk duduk berdampingan dengan dia, wanita yang kudengar banyak memiliki sisi negatif. Aku tak peduli dengan apa kata orang tentang dia. Buatku, setiap orang memiliki sisi negatif dan positif, tergantung dari cara pandang orang ke orang tersebut. Abaikan untuk hal yang satu itu. Saat ini yang jelas, aku bahagia, bisa dekat dengan dia walaupun hanya untuk hari ini. Lebih baik aku menikmati hari ini yang entah kapan bisa aku dapatkan lagi kesempatan ini.

“Hei, tumben bukan Diaz yang jadi sie dokumentasi. Emang si Diaz lagi kemana?”

“Hei juga, Ar. Iya ne, si Diaz lagi ada acara di kampusnya. So, minta tolong aku buat gantiin sebentar tugas dia.”

“Oohh.. Eh, lihat dong, hasil yang barusan kamu ambil. Boleh?”

“Silahkan.”

Asemmm!! Aku grogi sangat. Ngga nyangka, dia ternyata ramah banget. Kirain dia ngga mau diajak say hello dan diajakin ngobrol. Ternyata oh ternyata.

“Eh, kamu suka baca buku ngga?”

“Ha? Apaan? Baca buku? Iya, aku suka baca buku. Banyak tu buku dirumahku. Kebanyakan sih novel, komik detective conan sama novel series kayak harry potter, eragon, twilight saga, narnia. Ya, lumayanlah, bisa dibaca berulang-ulang. Kenapa? Mau pinjam?”

“Kamu suka conan juga? Komplit ngga? Boleh pinjam?”

“Punya kok, komplit dari awal sampai yang sekarang. Boleh kalau mau pinjam, tapi ingetin aku ya, soalnya aku suka lupa. Maklum, serangan amnesia mendadak sering muncul tiba-tiba. Hehe..”

Oh, mungkin ini kali ya, yang dimaksud sama Dinda. Dia pelit ngga mau kasih pinjam apa yang dia punya. Mungkin emang karena dia lupa aja kali ya. Nyatanya dia bilang kayak gini. Lagian mungkin emang Dinda lupa ngga ngingetin dia kali yaa. Positif thinking aja ah. Daripada bawaannya suudzon sama orang.

“Lha kamu sukanya apa? Perasaan daritadi aku doang yang bilang kesukaanku deh.”

“Oh, aku. Aku suka banget main ke hal-hal yang berbau alam. Entah ke pantai atau ke gunung. Kemarin sih barusan dari gunung merbabu. Ngga ngapa-ngapain sih. Cuma main doang.”

“Seriusan kamu sukanya ke hal-hal yang berbau alam? Sama dong kalau gitu sama aku. Aku juga senang ke tempat-tempat terbuka. Ngga begitu suka ke mall. Dalam setahun bisa dihitung berapa kali aku ke mall. Kenapa mukanya kayak gitu? Ngga percaya yaa?”

“Ha? Ngga kok. Ngga nyangka aja kamu yang kelihatannya anak mall sukanya ke hal-hal yang berbau alam. Bener-bener ngga nyangka.”

“Haha.. Jangan ngejudge orang dari penampilan luarnya dong. Kenali lebih dalam lagi, baru ketauan ntar gimana itu orang.”

6 bulan kemudian

Hubungan antara aku dan dia semakin dekat. Masih meyakinkan diri kalau aku hanya sekedar mengaguminya saja, bukan mencintai dan menyayanginya lebih dari seorang teman. Tapi, lama kelamaan gerah juga yaa, lihat kedekatan dia sama cowok lain. Sebenarnya hubungan mereka apaan ya? Tapi, sikap dia juga sama aku kayak gimana gitu ya. Apa aku tanyain aja ya sama dia? Tapi tar kalau hubunganku sama dia malah jadi ngga enak dan jadi jauh gimana ya? Ah, udahlah, jalani aja apa adanya sekarang.

Drrtt.. ping.. ping..

Nadia ke Ardi
Ar, punya tema wordpress ngga? Sinyal internetku lagi down banget ne. Makasih.

Ardi ke Nadia
Ada, Nad. Kamu pinginnya tema yang kayak gimana ne?

Nadia ke Ardi
Yang simple-simpel aja aja, Ar. Yang cute gitu.

Ardi ke Nadia
Oke, nad. Ntar aku cariin. Aku kirimin ke kamu. Ditunggu aja ya.

Nadia ke Ardi
Sippo, Ar. Tengkyu banget ya.

Busyet!!! Baru WA aja udah dag dig dugnya ngga ketulungan kayak gini. Gimana kalau beneran jadi pacarnya ya? Eh, pacar? Emangnya dia lagi nyari pacar? Emangnya dia lagi single? Jangan-jangan udah ada yang punya tar dia. Oh my god!! Trus kalau dia udah punya pacar, aku dikemanain dong? Eh? Kenapa aku jadi kayak gini ya?


5 bulan kemudian

Alhamdulillah, akhirnya sinyal-sinyal kedekatanku membuahkan hasil. Walaupun ngga seperti yang aku harapkan selama ini, tapi ngga apa-apalah. Yang penting ada kejelasan status deh. Hemm.. status sebagai Teman Tapi Sahabat ngga apa-apa. Daripada Teman Tapi Mesra, pacaran ngga, temenan juga ngga. Lebih baik kayak gini aja, aman sentosa.

--- ooo ---

Terkadang persahabatan dan pertemanan antar dua orang lawan jenis akan berakhir kepada kisah cinta. Namun terkadang mereka lebih memilih persahabatan daripada merusak persahabatan itu sendiri.
-         Ardi –

--- ooo ---

22 Januari 2015

Disela-sela rapat dan pekerjaan yang lumayan banyak, terlintas ide cerita tentang TTS, teman tapi sahabat. Karena terkadang sebuah pertemanan hanya murni pertemanan tanpa ada embel-embel persahabatan. Karena menurut aku pribadi, teman itu dating disaat sedang butuh, saat sedang sedih. Saat happy? Dia ngga pernah dating, dan kita dilupakan. Berbeda dengan sahabat, dia selalu ada disaat kita lagi up ataupun down.

Cerita oneshoot kali ini saya persembahkan untuk mba Flat Flo. Saya penasaran sama cerita dia yang Unforgettable Marriage. Susah buat ditebak. Tapi, usul nih, mba, anaknya ntar kembar 2 ya, cowok sama cewek. Tapi dikasih drama dikit biar Banyu sadar kalau Iris Jingga ngelahirin anaknya penuh dengan perjuangan. Dan bikin si Banyu ngga berani macam-macam lagi sama Iris..wkwkwk..

So, happy reading, gals J
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature