12 February 2026

Dari Ide Sederhana Jadi Bisnis Nyata: Cerita Pelatihan Wirausaha PLN yang Mengubah Cara Pandang Siswa Gunungkidul


Ada satu momen yang sering terjadi di ruang kelas: ketika guru bertanya tentang cita-cita, sebagian siswa menjawab dengan ragu. Bukan karena mereka tidak punya mimpi, tapi karena belum tahu bagaimana memulainya.
Di Gunungkidul, sebuah pelatihan sederhana mencoba mengubah itu.
Pada awal Februari 2026, suasana SMA N 2 Wonosari terasa sedikit berbeda. Bukan hanya karena hadirnya tamu dari luar sekolah, tetapi karena ada energi baru — rasa penasaran, antusiasme, dan sedikit keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Distribusi Jawa Tengah & DIY bersama Rumah BUMN Gunungkidul menggelar pelatihan kewirausahaan bertajuk “Kreasi Unik, Wirausaha Asyik.” Nama yang terdengar ringan, tetapi membawa misi besar: membantu generasi muda memahami bahwa bisnis bukan hanya milik orang dewasa.
Sebanyak 224 siswa kelas XI ikut terlibat. Bagi sebagian dari mereka, ini mungkin hanya kegiatan tambahan. Tapi bagi banyak lainnya, pelatihan ini menjadi pintu pertama untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Belajar Bisnis Tidak Harus Menunggu Dewasa
Ketika Dunia Nyata Masuk ke Ruang Kelas
Sering kali pembelajaran di sekolah terasa teoritis. Rumus, definisi, dan konsep dipelajari tanpa benar-benar melihat bagaimana semuanya bekerja di dunia nyata. Pelatihan ini mencoba mematahkan pola tersebut. Alih-alih sekadar menjelaskan teori kewirausahaan, fasilitator dari Rumah BUMN membawa pengalaman langsung ke hadapan siswa. Mereka berbicara tentang kegagalan, strategi, kreativitas, dan hal-hal kecil yang sering luput dari buku pelajaran.
Suasana pelatihan terasa lebih seperti diskusi santai daripada kelas formal. Ada tawa, ada pertanyaan spontan, dan ada momen ketika siswa mulai menyadari bahwa bisnis ternyata tidak selalu rumit.
Memulai dari Hal yang Dekat dengan Anak Muda
Mengapa hampers?
Karena hampers adalah produk yang dekat dengan keseharian generasi muda. Mudah dipahami, fleksibel, dan penuh ruang kreativitas. Dari situ, siswa belajar bahwa bisnis tidak harus dimulai dari ide besar yang revolusioner. Kadang, ide sederhana justru lebih mudah berkembang jika dieksekusi dengan baik.
Belajar dari Nol: Dari Ide hingga Produk Nyata
Merancang Konsep dan Nilai Produk
Langkah pertama yang dipelajari siswa adalah memahami nilai unik. Bukan sekadar membuat produk, tetapi bertanya:
  • Apa yang membuat produk ini berbeda?

  • Mengapa orang ingin membelinya?

  • Siapa target konsumennya?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu siswa berpikir kritis dan kreatif sekaligus.

Pemasaran Digital yang Relevan dengan Generasi Z

Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, pemasaran digital bukan hal asing. Namun, memahami strategi di baliknya adalah cerita berbeda. Para siswa belajar:
  • membuat konten yang menarik

  • memahami visual branding

  • menggunakan storytelling untuk menjual produk.

Beberapa siswa bahkan mengaku baru menyadari bahwa foto produk yang bagus bisa meningkatkan daya tarik secara signifikan.

Belajar Menghitung Untung dan Rugi

Bagian ini menjadi salah satu momen paling membuka mata. Ketika siswa mulai menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), mereka sadar bahwa menentukan harga tidak bisa asal. Ada biaya bahan, waktu, tenaga, hingga strategi keuntungan yang harus dipertimbangkan. Beberapa siswa terlihat terkejut ketika mengetahui bahwa keuntungan kecil bisa berubah menjadi besar jika dikelola dengan tepat.

Saat Teori Bertemu Realitas

Tantangan Satu Bulan Penjualan

Pelatihan ini tidak berhenti di ruang kelas. Setelah dua hari pembekalan, siswa diberi tantangan nyata: menjual produk hampers mereka selama satu bulan penuh. Inilah bagian yang membuat program ini berbeda. Mereka harus menghadapi:
  • calon pembeli

  • penolakan

  • persaingan

  • strategi promosi

Di sinilah pelajaran sesungguhnya dimulai.

Menghadapi Penolakan dan Belajar Bangkit

Tidak semua produk langsung laku. Ada siswa yang merasa kecewa ketika usahanya tidak langsung berhasil. Tapi justru di situ mereka belajar bahwa kegagalan bukan akhir. Beberapa kelompok mencoba mengubah strategi, memperbaiki kemasan, atau mengubah pendekatan promosi. Pelajaran paling penting bukan tentang menjual produk, tetapi tentang ketahanan mental.

Peran PLN: Lebih dari Sekadar Penyedia Energi

Mendukung SDGs melalui Pemberdayaan

Program ini menunjukkan bahwa PLN tidak hanya fokus pada energi listrik, tetapi juga energi perubahan sosial. Melalui Rumah BUMN, PLN berupaya:
  • memberdayakan masyarakat

  • meningkatkan keterampilan generasi muda

  • membuka peluang ekonomi baru

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam bidang pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.

Ketika Sekolah dan Dunia Industri Berjalan Bersama

Perspektif Baru bagi Dunia Pendidikan

Kolaborasi dengan praktisi memberikan pengalaman yang sulit digantikan oleh teori. Kepala sekolah menyampaikan bahwa siswa mendapatkan wawasan nyata tentang dunia kerja dan bisnis.

Banyak siswa yang awalnya ragu mulai percaya bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu.

Dari Gunungkidul untuk Masa Depan

Gunungkidul mungkin dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi di balik itu ada potensi generasi muda yang besar. Program seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil.

Mungkin dari satu pelatihan sederhana, lahir wirausahawan masa depan. Mungkin dari satu ide hampers sederhana, muncul mimpi besar.

Kesimpulan: Ketika Peluang Bertemu Keberanian

Pelatihan “Kreasi Unik, Wirausaha Asyik” bukan hanya tentang bisnis. Ini tentang membuka perspektif baru bagi generasi muda. Tentang memberi mereka ruang untuk mencoba. Tentang menunjukkan bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan.

Dan yang paling penting, tentang menanamkan keyakinan bahwa mereka mampu menciptakan masa depan sendiri.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature