14 May 2016

First Time I Meet Her, Lathifah Edib | Ngobrol Bareng

 

Holaaa..
 
Hampir seminggu aku lagi dapat ujian. Tangan kananku tiba-tiba bengkak, dan susah buat digerakkin. Sempat dipaksain buat ngetik, kerja, nulis, kemudian bengkaknya nambah dan langsung kaku kemudian susah buat digerakkin. Sedih rasanya.. Postingan pun mundur semua.
 


Nah, kali ini My Scrap Book bener-bener nggak nyangka, kalau ngobrol bareng kali ini bareng sama mbak Lathifah Edib. Pertama kali ketemu di satu event di Jogja, Arisan Ilmu KEB. Dan berlangsung hingga sekarang. So, aku memutar kembali pertemuan pertamaku dengan mbak Edib.


Oke, simak yuk, obrolan cantik kita berdua..
 
Hallo, mbak Edib, apa kabarnya nih? Waah, lagi sibuk apa nih sekarang? 

Hai, Mbak Asri yang selalu bilang, “namamu seperti nama nenekku.” Hehe, semoga nggak dipanggil nenek aja diriku, ya. :v Senang banget berkenalan dengan Mbak Asri yang hangat (memangnya magic com), ramah, dan manis (uhuk!). Sekarang saya lagi sibuk sok sibuk. Nanti dibilang bukan karyawan baik toh kalau nggak sok sibuk? #tutup muka. Selain sibuk di kantor, saya juga sibuk keluyuran.

Ehm, mbak Edib, maaf yaa, ganggu waktunya sebentar. Boleh nanya-nanya kan? Ehm, mbak Edib, kalau boleh tau nih, profesi mbak Edib saat ini apa yaa? Boleh diceritakan sedikit  mengenai profesi mbak Edib saat ini?

Tepat 1 April nanti, setahun sudah saya jadi karyawan sebagai editor redaksi anak di sebuah penerbitan di Jogja. Sebelumnya saya tinggal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, bekerja sebagai freelance editor dan mengajar privat. Jika sebelumnya saya banyak mengedit naskah fiksi (cerpen, novel, puisi) dan nonfiksi (artikel), setelah jadi editor tetap, saya khusus mengedit naskah anak (misal buku dongeng, buku penunjang PAUD/TK, dsb). Sesekali saya juga masih mengedit naskah fiksi di luar jam kantor.

Pernahkah mbak Edib merasakan kebosanan atau mati gaya saat menjalani profesi mbak yang nggak sedikit itu? Bagaimana cara mbak Edib apabila kemudian tiba-tiba merasakan kebosanan yang teramat sangat?


Bosan sebagai karyawan itu pasti ada, apalagi saya sebelumnya nggak pernah kerja di kantor. Bayangkan, saya yang sebelumnya terbiasa nokturnal (malam kerja, siang banyak tidur), terbiasa keluyuran ke mana pun dan kapan pun, eh tiba-tiba aja harus mengikuti ritme orang kantoran. Tapi, alhamdulillah, Sabtu Minggu libur, jadi saya masih bisa keluyuran. Oh, iya, saya sangat suka menulis dan membaca puisi. Bergabung di sebuah komunitas sastra khusus puisi yang sering road show ke kota-kota di Indonesia, membuat saya berusaha meluangkan waktu ikut acara komunitas (asal pas weekend meski kadang “nambah” sehari. #karyawan tak patut dicontoh! :v ). Keluyuran ini menjadi salah satu cara saya mengatasi kebosanan. J Yah, mumpung belum punya kewajiban sebagai istri dan seorang ibu, kan? (duh, Mblo!)
  Kalau boleh tau nih, kan selain mbak Edib berprofesi sebagai .... (mohon diisi yaa), mbak Edib juga berprofesi sebagai blogger. Gimana sih cara bagi waktunya antara kesibukan mbak Edib sendiri dengan menulis blog? 

Ada lagi nih kesibukan yang baru saya lakoni dalam beberapa bulan terkahir, yakni ngeblog! Kayaknya saya kecanduan ngeblog, deh. Awalnya, saya pikir jadi karyawan sekaligus blogger itu sulit. Sekarang, ngeblog bagi saya itu sebuah kesenangan menulis. Belum jadi profesi. ^_^ Karena masih baru di dunia selebriti, eh, dunia blogging, yang saya utamakan sekarang cuma mengisi blog dengan konten yang saya suka. Saya nggak mau terbebani harus menulis ini atau itu. Dibawa santai aja dulu. Misal, pas saya ingin menulis puisi, ya posting puisi di blog. Pas saya mau menulis tentang acara-acara yang saya ikuti, ya tulis saja. Pas saya mau menulis unek-unek, ya posting curhatan di blog. Pas saya mau menulis kisah si mantan, ah lupakaaan! #Glek!
Saya menulis blog di sela-sela kejenuhan bekerja. Yah, kira-kira lima belas menit pas bosan memelototi kalimat demi kalimat yang mesti diedit, saya luangkan waktu menulis di blog (meski kadang sekadar nge-draft).
  Apa yang melatar belakangi mbak Edib kemudian membuat blog? Kalau boleh tau, dalam sehari, seminggu, sebulan, bisa posting berapa banyak? Ada tantangan/kesulitan nggak, setiap kali mau memposting tulisan di blog?

Latar belakang ngeblog karena “dikompori” seorang sahabat. Lagi pula, saya terpikir saya harus aktif dan kontinu menulis. Selama ini memang saya cenderung orang yang pemalas. Nggak pernah terpikir menuliskan pengalaman perjalanan. Ngeblog saya jadikan sebagai latihan menulis dan berkomitmen untuk tetap menulis. Konon, menulis itu mencegah kita dari kepikunan. Untuk saat ini saya membuat komitmen, sebulan minimal empat postingan. Kendala dalam ngeblog cuma satu: MALAS! :D Eh, ada kendala lain juga. Kadang mood menulis di blog itu muncul saat kerjaan kantor lagi menumpuk. Mungkin lebih kepada manajemen waktu saja, ya.

Bagaimana pandangan orang-orang di sekitar mbak Edib, di lingkungan pekerjaan mbak Ria dengan profesi mbak Edib sebagai blogger? Apakah mereka mendukung atau malah ada yang mencibir? Apa keuntungan yang mbak Edib dapatkan saat mbak Edib kemudian memilih menjalani profesi sebagai blogger? 

Keluarga sih nggak tahu soal urusan blog. Mereka tahunya saya karyawan “rajin” (tanda kutip, lho!), yang setiap hari berangkat pagi pulang sore. Bahkan, setiap menelepon, keluarga selalu bertanya, “Lagi di kota mana?” Haha! Dikira saya keluyuran terus setiap hari kerja. Duh! Yang tahu kesibukan saya ngeblog itu teman-teman sekantor. Sampai sekarang, biasa-biasa aja sih tanggapan mereka. Saya kan beberapa kali menang GA. Setiap kiriman hadiah GA sampai di kantor, mereka ikut senang juga. Ketika saya dapat smartphone dari menang ngeblog, mereka takjub. ^_^
Saya ingat pesan sahabat saya: “Menulislah dari hati. Perkara nanti kamu dapat hadiah atau uang dari ngeblog, itu hanya bonus. Yang penting terus menulis dan menulis.” Sekarang, bagi saya yang penting enjoy dalam menulis di blog. Rasanya hati plooong bangeeet setelah menulis di blog, setelah menuangkan perasaan dan pemikiran.

Apakah keluarga mbak Edib selama ini mendukung dari sisi pekerjaan tetap mbak Edib dan pekerjaan sampingan mbak Edib sebagai blogger?

Curcol nih, saya dulu pernah bertahun-tahun menganggur di rumah. Tapi, karena menganggur itulah, saya jadi tahu dunia kepenulisan dan editing. Tetangga dan kerabat banyak yang mengira saya “sarjana pengangguran”. Maklum, di lingkungan saya masih banyak yang beranggapan “sarjana itu kerjaannya di kantor atau PNS.” :D Lah, kerjaan saya cuma di rumah, main laptop, begadang, dan sebangsanya. Cuma keluarga dekat saya yang tahu siapa saya. Jadi, keluarga selalu mendukung apa pun pilihan saya. ^_^

Ada tips dan trik nggak dari mbak Edib dalam menuliskan sebuah tema di blog? Atau saat menulis blog?



Saya masih belajar dan belajar ngeblog. Saya belajar tips-tips ngeblog dari blogger lainnya. ;)

Menurut mbak Edib, blogger di era sekarang ini penting nggak sih? 

Penting atau nggak penting itu tergantung kemauan dan keperluan. Bagi yang sudah berkecimpung dalam dunia kepenulisan, nggak ada salahnya juga mulai ngeblog. Sejatinya ngeblog itu kan menulis. Blog sekadar media yang lebih relevan untuk saat ini, saat informasi mudah tersebar di internet.
 
Yang terakhir ya. Ada pesan nggak untuk para blogger yang memiliki pekerjaan pokok atau untuk para pemula yang masih baru berkecimpung di dunia perbloggeran? 

Di suatu acara blogger, saya berkenalan dengan seorang blogger yang mengaku blogger pemula. Saya bilang saya juga blogger pemula. Saya gaptek banget, jadi belum tahu cara “menghiasi blog”. Si blogger yang mengaku pemula itu tiba-tiba bertanya apakah saya pernah dapat job review? Saya kaget. Saya nggak terpikir soal job review atau apalah. Bagi saya, yang terpenting, menulis dan menulis. Isi blog dengan konten-konten positif. Asah ilmu kepenulisan dan ngeblog. Soal nanti dapat job review atau penghasilan dari ngeblog, itu hanyalah bonus, bukan motivasi ngeblog. 

*** 
Gimana hasil My Scrap Book ngobrol bareng mbak Edib? Asyik kan? Seru banget kan? Jadi, tambah bikin nggak sabar buat segera meluncur ke blognya mbak Marita buat baca postingan serunya. My Scrap Book udah lho, kamu? Pertama kali ketemu mbak Edib itu samar-samar sebenarnya. Senang bisa ketemu mbak Edib. Asyik banget orangnya.

Makasih banyak, mbak Edib, sudah bersedia ngobrol bareng bersama My Scrap Book. Semoga dengan ini bisa menjadikan kita makin akrab dan silaturahmi tidak terputus yaa..
  
Untuk tampilan blog dari Edib adalah :
 
 
Asyikkk, kelar sudah ngobrol bareng My Scrap Book bersama dengan mbak Edib. Don't go anywhere, tetap stay tune yaaa di blog My Scrap Book. Karena ada berbagai artikel menarik disini.

Ngobrol bareng ini menjadi pilihan My Scrap Book untuk ikut meramaikan postingan di blog ini. Dimulai dengan Ngobrol bareng, dan jangan lupa baca Guest Post yang sudah bisa mulai kamu baca juga di blog ini. Semoga dengan adanya postingan ini bisa menambah pertemanan dan keakraban di antara teman-teman semua.
 ***
 
 Tentang Edib :

Lathifah Edib, ini nama pena saya (gaya banget pakai nama pena). Sebenarnya nggak sengaja sih pakai nama itu. Berawal ikut lomba menulis puisi di grup Facebook, eh yang dicantumkan malah nama Facebook saya, bukan nama asli. Nama Lathifah Edib saya pakai juga sebagai bentuk penghargaan ke seorang teman yang memberikan nama “Edib”.
Nama saya sesuai KTP dan pemberian ortu tercinta: Ainun Latifah. Saya lahir dan besar di Banjarmasin. Setelah lulus MAN (setingkat SMA), saya meneruskan kuliah dan nyantri (gagal jadi santri karena keluyuran terus. Santri bandel. Hehe) di IAI Nurul Jadid Probolinggo. Sekarang bekerja dan berdomisili di Yogyakarta.
Akun Twitter: @LathifahEdib, Instagram: @lathifahedib, Facebook: Lathifah Edib, blog: lathifahedib.blogspot.co.id
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature