08 December 2023

Perjalanan Hati



Holaa..

Senang bisa kembali menyapa kalian di bulan ini. Lagi berusaha buat bisa nulis lagi nih di blog. Doakan yaaa. Biar aku bisa berbagi tulisanku bersama kalian semua. Kali ini aku mau sharing mengenai perjalanan hati aku menuju pernikahan adikku tercinta.

Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, ayah dan ibuku mengajak aku mengobrol serius. Topiknya adalah mengenai keinginan adik untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Tentu saja itu nggak mudah buat kedua orang tuaku menyampaikan hal tersebut kepada aku. Namun, aku, Alhamdulillah, mengiyakan keinginan tersebut. Hari itu aku merasa legowo.

Tapi, ternyata, adik diterima kerja di salah satu perusahaan dimana tidak diijinkan untuk menikah selama masa job training. Jadi, rencana pernikahan tersebut diundur. Dari sinilah perjalanan hatiku udah mulai berjalan.
  
Kalau saat itu dibilang legowo, aku legowo. Tapi, entah kenapa semakin kesini, kok kayak susah aja. Di satu sisi, legowo, di sisi lain, ego masih kuat bertahan, aku masih berusaha gimana caranya aku yang nikah duluan. Tapi, ternyata, apa yang dipaksakan dengan niat yang kurang baik, hasilnya juga nggak baik. Hingga di satu titik, aku ‘ya sudahlah, mungkin memang rejekinya adik buat menikah terlebih dahulu, toh kalaupun aku memaksakan diri mencari suami saat ini, hasilnya malah nggak baik, karena niatnya hanya agar tidak dilangkahi’. Dari situ, aku mulai belajar menata hati. Nggak mudah, benar-benar nggak mudah. Ada aja halangannya. Merasa nyaman dengan seseorang, eh ternyata orang tersebut sudah memiliki yang lain. Belajar sabar, belajar ikhlas lagi.

Hingga kemudian, tatkala SK sudah didapat oleh adik, persiapan pernikahan pun akhirnya berjalan. Disitu aku kembali mendapat ujian hati. Kali ini ujiannya adalah, rasa takut kehilangan adik yang selama ini selalu ada sama-sama, kalau main, curhat sama-sama. Kalau kangen, sering ketemu. Sampai di saat H-berapa hari menjelang adik nikah, kakak sepupuku datang dan mengajakku berbicara dari hati ke hati.

*KS : kakak sepupu ; A : aku*

KS : Dek, kamu udah yakin, ikhlas lillahi ta’ala, dilangkahi adikmu menikah terlebih dahulu? – sambil menjabat tanganku –
A : Ikhlas, mas, lillahi ta’ala, adik ikhlas melepas adik buat nikah duluan

Padahal awalnya masih galau-galau nggak jelas gitu. Eh, pas kakak sepupuku nanya, kok mantap menjawab seperti itu. Saat adik melakukan ijab kabul hingga resepsi pernikahan, hanya senyum bahagia yang aku berikan. Benar-benar lega, plong, ikhlas, beban kayak keangkat semua. Malahan tamu-tamu undangan, waktu salaman sama aku, kebetulan aku nemenin bapak ibuku di atas panggung, jadi ikutan salaman juga kan akhirnya, pada bilang, “Sabar yaa, mbak”. Aku agak bingung sih. Mungkinkah mereka berpikir jika merasa kasihan padaku karena dilangkahin menikah terlebih dahulu sama adikku? Nggak tahu juga sih. Padahal aku baik-baik aja, kenapa mereka berpikirnya lain yaa. 

(Baca juga : Falling in Love)

Alhamdulillah, pernikahan adikku membawa aku pada sebuah titik dimana aku ditunjukkan tentang sebuah rahasia dimana ternyata, ketidak sreg-an hatiku selama beberapa bulan ini, menjadi kenyataan. Bukan mengenai pernikahan adikku, melainkan mengenai lingkungan sekitarku. Makin kelihatan, siapa saudara, tetangga, teman yang membawa hal positif dan mana yang membawa hal negatif. Jadi, kayak gini kali yaa ilustrasinya, ada sebuah pintu yang ditutup rapat, dikunci pula. Tiba-tiba ada yang membukanya, dan akhirnya kebuka semua.

Dari situ aku belajar, jika ternyata kita nggak bisa percaya begitu saja sama orang. Karena apa, belum tentu apa yang kita ceritakan akan aman di tangan mereka, kalau ternyata malah menjadi boomerang buat diri kita? Dijadikan senjata oleh mereka untuk menjatuhkan kita? Lalu selain itu, banyak banget orang-orang di sekelilingku yang ternyata mereka fake people. Baik dengan kita di depan, belum tentu juga baik dengan kita di belakang, malahan menjatuhkan kita, memanfaatkan kita.

Benar-benar sebuah perjalanan hati banget buat aku, di usia segini, diberi banyak hadiah sama Allah. Alhamdulillah banget. Belajar untuk bisa sabar, ikhlas, memaafkan, melupakan, lebih menyeleksi teman juga.

Pernahkah kamu mengalami apa yang aku alami ini? Coba share ceritamu di komentar, atau kalau kamu takut, bisa kok share ke aku via Email atau DM di akun Instagramku

Okay, mungkin itu dulu yaaa #CeritaAsri dari aku kali ini. Ahh iya, jangan lupa untuk tetap menulis, sharing, berbagi ilmu, menjalin silaturahmi. Biasakanlah menggunakan bahasa sopan dan anti SARA, berikan kritikan yang membangun, bukan yang menjatuhkan. Tetap bahagia yaa.

Jangan lupa follow instagram aku yaa di @rumahceritaasri atau tiktok aku di @asrirahayums.
1 comment on "Perjalanan Hati"
  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature