28 January 2015

Kamu Milikku Selamanya




Seharusnya bukan namanya yang tercetak di undangan bertinta emas itu. Bukan dia yang menjadi pengantin hari ini, tapi aku. Tak taukah dia rasa sakit yang aku rasakan? Aku cinta dia, tapi kenapa dia tak pernah melihatku sedikit pun. Kenapa dia memilih meletakkan hatinya untuknya bukan untukku? Aku tau, aku hanya pengganti untuknya. Pernikahan ini pun seharusnya antara dia dan pilihan hatinya bukan denganku. Wanita itu pergi selamanya dari hidupnya dan dua minggu yang lalu, ia memintaku untuk menggantikan posisi wanitanya saat pernikahannya berlangsung. Tuhan, apa salahku selama ini padanya?

“Gue mau mandi habis itu gue mau tidur. Siapin baju gue. Gue nggak mau tau, begitu gue balik ke kamar ini, semuanya udah siap. O ya, satu lagi, loe tidur di sofa. Gue nggak mau tidur bareng sama loe di tempat tidur. Ngerti?”

“Iya, aku ngerti. Nanti aku siapin keperluan kamu. Terima kasih”.

Tak lama dia pun keluar dari kamar ini, hingga saat ini aku tak berani menyebutnya ‘kamar kami’. Karena memang ini bukan ‘kamar kami’. Aku bahkan tak punya lemari disini. Semua bajuku masih tersimpan rapi di dalam koper. Aku tak punya benda apa pun di kamar ini bahkan di rumah ini sekalipun. Semua miliknya dan wanita yang seharusnya menikah dengannya. Aku hanya pengganti saja, dia pun hanya menganggapku seperti itu. Kalau kalian bertanya, hubungan dalam rumah tangga kami? Aku akan jawab, tak ada hubungan apapun. Sentuhan pun tak ada. Apalagi panggilan sayang, tak pernah ada. Bagaimana dia memanggilku? Namaku yang dia panggil dengan nada tinggi itupun hanya sesekali, selebihnya tak pernah dia menyebut namaku. Hanya kesan dingin di dalam rumah tangga kami. 

Dalam diam aku menyiapkan segala keperluannya. Aku menyanggupi keinginannya yang tak menginginkan aku tidur bersama dengannya dalam satu tempat tidur. Aku mengalah memilih menurutinya. Biarlah seperti ini, walaupun sakit, aku rela karena aku mencintainya.

Satu bulan kemudian

“Alya, Marcel, kalian kapan mau kasih mama cucu? Mama udah nggak sabar pingin gendong cucu”.

Aku pun juga ingin punya anak dari dia, ma. Tapi, kalau tak ada hubungan apapun dalam rumah tangga kami, aku bisa apa. Setidaknya jika aku memiliki anak dengannya, aku masih punya alasan untuk tetap menahannya disisiku. Saat aku hendak menjawab pertanyaan mamanya, dia mendahuluiku.

“Mama sayang, bukannya Marcel sama Alya nggak mau kasih mama cucu cepet. Tapi, mama kan tau kami baru nikah sebulan dan mama juga tau kan alasan di balik pernikahan kami?”
Aku melihat mamanya menghela nafas panjang. Seolah-olah beliau tak setuju mendengar jawaban anaknya.

“Iya, Marcel, mama tau apa alasan dibalik pernikahan ini. Tapi, tak bisakah kamu mempertimbangkan keinginan mamamu ini, huh?”

“Oke, ma. Kalau memang mama pingin banget cepet gendong cucu. Nanti kami usahain buat cepet kasih mama cucu yaa. Ya udah, sekarang kami pulang dulu, biar kami bisa segera kasih mama cucu. Setuju, ma?”

Aku hanya bisa diam dan tak menjawab ajakannya saat dia mengajakku pulang ke rumahnya. 

--- 000 ---

Sore itu di café Bintang, aku bertemu dengan sahabatku, Bintang, pemilik café ini. Kuceritakan semua yang aku alami selama ini padanya. Dan dari yang aku lihat, Bintang marah mendengar ceritaku. 

“Al, loe gila yaa. Masa loe mau aja sih digituin sama suami loe. Pertimbangin lagi, al, perasaan loe. Belum cukup apa perlakuan dia ke loe dari dulu sampai saat wanita itu pergi?”

“Gue bisa apa, Bin? Gue cinta sama dia. Dari dulu sampai sekarang, dan itu nggak berubah. Aku sadar, aku yang salah dalam kejadian itu. Tapi, aku bisa apa. Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri. Nggak seharusnya aku datang hari itu”.

Aku terisak menangisi semua kejadian beberapa bulan belakangan ini. Kejadian saat Rachel meninggal, saat aku mengiyakan keinginan Marcel untuk menikah menggantikan posisi Rachel di atas pelaminan, kehidupan rumah tanggaku, keinginan mamanya. Semua kejadian itu berputar ulang di dalam kepalaku. Hingga gelap itu datang menyerangku.

“Hei, loe udah sadar, Al? Gue panggilin dokter dulu ya. Loe istirahat dulu aja. Sebentar yaa, Al”.

Tak lama dokter yang dipanggil Bintang pun datang. Dia suami Bintang, Aldo. 

“Hai, Al. Gimana keadaan loe? Apa yang loe rasain saat ini? Jangan minta pulang dulu ya. Paling nggak besok baru loe boleh pulang. Nggak usah ngebantah. Siapa yang dokter disini?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan dan ancaman Aldo. Bisa apa aku selain mengiyakan keinginan suami sahabatku ini. Daripada aku ditoyor sama istrinya bisa panjang nanti urusannya.

“Oke, gue ikutin saran loe kali ini, Al. Gue nggak apa-apa kok, cuma masih pusing aja”.

“Ya udah, loe sekarang istirahat gih, nanti habis makan, loe minum obatnya yaa. Tenang aja, ada gue sama istri gue yang paling cantik di seluruh dunia yang bakalan nemenin loe malam ini”.

“Nggak usah ditemenin, Al, Bin. Gue nggak apa-apa kok sendiri disini. Gue jamin, gue bakalan baik-baik aja. Percaya deh sama gue”, pintaku meyakinkan mereka berdua.

“Fine! Kalo loe nggak mau kita berdua temenin. Tapi, paling tidak, makan dulu habis itu minum obat. Setelah loe minum obat, kita berdua bakalan pulang, biar cepet kasih loe ponakan”.

Fix! Sahabat-sahabat aku ini pada gila semua. Bisa-bisanya ngomong sevulgar itu sama aku. Tapi, gimana caranya aku ngomong ke Marcel ya? Bisa ngamuk dia kalau tau aku nggak ada dirumah. Atau mungkin dia malah senang aku tak ada dirumah? Daripada berspekulasi tak jelas, lebih baik aku menelponnya.

“Hallo, Cel. Ini aku, Alya. Maaf, mala mini aku nggak pulang. Aku tidur ditempat Bintang. Dia sendirian dirumah, suaminya lagi dinas malam. Terima kasih, Marcel”.

“Heh, ngga usah pulang kerumah sekalian! Udah punya suami masih aja kelayapan nggak jelas gitu”.

Percakapan itu pun diputus sepihak olehnya. Aku terdiam mencerna setiap kalimat yang dia ucapkan. Apa maksudnya memintaku tak pulang kerumah karena aku menginap di rumah Bintang? Kalau dia tau aku lagi sakit seperti ini, apa yang akan dia katakan ya? Apakah akan sama ataukah berbeda?

Kuputuskan besok pagi-pagi sekali, aku keluar dari rumah sakit ini. Sudah kupikirkan matang-matang. Dia memintaku untuk tak pulang kerumah. Aku tak akan pulang. Aku akan pergi sejauh mungkin meninggalkan dia disini dan semua kenangan selama beberapa bulan ini. Dua sahabatku pun tak akan kuberitau kemana aku akan pergi. 

“Suster, maaf, dimana pasien di kamar ini? Kenapa dia tak ada di kamarnya?”

“Maaf, dok, tadi pagi-pagi sekali, mbaknya sudah keluar. Katanya mau pulang kerumahnya, nggak enak sama suaminya, dok”.

“Yang, gimana, Alya kemana? Dia nggak apa-apa kan? Dia baik-baik aja kan?”

“Sayang, kamu tenang dulu yaa. Alya katanya udah pulang tadi kerumahnya. Kamu mau kita kerumahnya?”

“Iya, yang. Aku khawatir sama keadaan Alya”.

Tak lama tibalah mereka berdua di apartemen milik Marcel suami Alya.

“Permisi, Marcel, boleh kami ketemu Alya?”

“Kalian siapa? Apa hubungan kalian sama Alya?”

“Perkenalkan saya Aldo dan ini istri saya Bintang. Kami berdua sahabatnya Alya. Boleh kami bertemu dengan Alya?”

“Alya nggak ada disini. Semalam dia bilang, dia tidur di rumah kalian. Katanya suaminya Bintang sedang dinas malam dan Bintang sendirian”.

“Ap-apa? Nggak mungkin. Alya semalam tidur di rumah sakit, dia sakit. Dia kemarin pingsan sewaktu di café saya. Saya membawanya ke rumah sakit tempat suami saya bekerja. Kemana Alya? Jawab!”

“Yang, sabar, yang. Sabar. Kita pasti ketemu sama Alya. Kamu yang tenang yaa”.

“Al-alya sakit? Ta-tapi, dia semalam bilang… Oh, shit! Apa yang udah gue bilang sama dia”.

Berbagai pertanyaan menghampiri benak dua sejoli itu. Hingga mereka pamit pulang pun, tak ada kalimat yang keluar dari mulut Marcel.

Dua bulan berlalu

Walaupun masih terasa ada yang kosong di hati dan di sampingku, setidaknya, sekarang aku sudah bisa tersenyum. Walaupun harus menahan rindu untuk tak bertemu dengannya. Setidaknya aku sudah menuruti keinginannya untuk tak kembali lagi kerumah. Sungguh, aku tak berharap dia akan merasa kehilanganku dan mencariku. Aku tak pernah berharap sama sekali. Kalau dia bahagia dengan ketidakhadiranku, aku juga ikut bahagia.

“Mbak, dipanggil Mbak Marsha diruangannya,” panggilan Chyntia membuyarkan lamunanku.

“Oke, Chyn. Sebentar lagi aku kesana. Makasih ya.”

Tok tok tok 

“Nyariin aku, Sha? Ada apa?”

“Desain yang aku minta kemarin, udah selesaikah? Kliennya pingin liat dulu. Ribet banget dia. Wajahnya sih cakep walaupun lebih cakep Bian sih, cuma dia kelihatan kacau aja. Nggak ngerti lagi ada masalah apaan”.

“Udah aku kirim email yaa, Sha, tadi pagi. Aku udah titipin ke Chyntia juga buat dikasihin ke kamu”.

“Bentar, Al. Klien yang kacau telpon. Iya, hallo..”.

“Al, kamu bisa aku mintain tolong nggak? Klien kita ini pingin ketemu langsung sama yang ngedesain. Kamu mau kan ketemuan sama dia? Bawa semprotan merica, Al, kalau dia ngamuk, semprotin aja, habis itu langsung kabur”.

“Oke, Sha, aku ketempat ketemuannya. Dimana?”

Café di dekat kantor tempatku bekerja dan bersembunyi selama ini. Klien yang kacau meminta untuk bertemu disini. Sebelum dia datang, lebih baik aku memesan minum terlebih dahulu.

“Selamat siang”

Suara itu, nggak mungkin dia ada disini. Bukan dia kan yang menyapaku. Ini hanya ilusiku saja kan? Kudongakkan kepalaku dan terkejut tatkala melihat dia yang ada di hadapanku saat ini. Marcel! Apa yang terjadi sama dia, kenapa dia sekacau ini?

“Al-alya? Is that you? Oh God, kamu selama ini disini? Aku nyari kamu, Al. Demi Tuhan, Alya. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kenapa kamu nggak bilang malam itu kalau kamu sakit? Kenapa kamu mesti bohongin aku?”

Pelukannya membuat aku menegang. Mendengar kata-katanya aku bertambah terkejut. Hei, kemana panggilan ‘loe-gue’ yang selama ini dia pakai? Kenapa dia beraku-kamu sekarang. Apa yang terjadi selama ini?

“Bisakah kamu melepaskanku? Aku tak bisa bernafas”, pintaku lirih.

“Maaf, Al, maaf. Kita cari tempat lain saja ya, nggak enak dilihatin banyak orang gini? Kita ke apartemen aja ya. DO aja nggak apa-apa kan?”

Aku hanya diam dan mengikutinya berjalan. Setelah membayar minuman yang tadi aku pesan dan belu sempat kuminum, kuikuti langkahnya menuju parkiran. Mobil itu pun melaju menuju ke apartemennya. Sekali lagi, apartemennya, bukan apartemen kami. Bukan rumah kami, melainkan rumahnya, tempat tinggalnya.

Sesampainya kami disana, dia segera memesan makanan Jepang dan Pizza. Kami hanya diam tanpa berniat sedikit pun untuk memulai pembicaraan. Tak lama kemudian, pesanannya pun datang. Kami makan dalam diam. Tanpa suara ataupun canda tawa. Hingga makanan kami habis, tak ada niatan satupun dari aku untuk memulai percakapan dengannya. Jujur, aku lelah. Aku lelah berspekulasi tentang dia. Hingga akhirnya suara itu terdengar lagi. Dan kali ini sangat lembut.

“Alya, kamu apa kabar? Kamu kemana aja, Al? Jadi, selama ini kamu bekerja di kantor Marsha? Dan kamu yang ngedesain apa yang aku minta? Jawab, Al. Jangan hanya diam saja”.

“Kabar aku baik. Terima kasih. Aku nggak kemana-kemana kok, aku masih di kota ini. Aku bekerja sama Marsha dan iya aku yang mendesain permintaan kamu. Maaf, kalau kamu kecewa dengan apa yang aku kerjakan”.

“Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku mencarimu, Al. Aku hampir putus asa mencarimu. Au bahkan tak tau jika kamu ternyata amat sangat dekat denganku. Tidak, Al. Tentu saja, tidak. Aku suka dengan apa yang kamu kerjakan. Sangat indah, Al. Terima kasih”.

Apa katanya? Terima kasih? Aku tak salah dengar kan? Dia mencariku? Karena inikah dia menjadi kacau seperti ini? Tuhan, ada apa ini sebenarnya?

“Ka-kamu mencariku? Kenapa? Bukankah kamu tak menginginkan aku kembali kesini?”

“Maafkan aku, Al. Aku salah. Tolong, maafkan aku. Harusnya aku tak perlu bersikap dan berbicara kasar padamu. Aku tak tau jika selama ini kamu begitu amat tersakiti dengan sikapku. Harusnya malam itu aku tak perlu berbicara kasar seperi itu padamu. Tapi, malam itu aku bingung, kamu tak pulang kerumah dan hanya telpon sekali mengabarkan kamu di rumah sahabatmu yang bahkan aku tak mengenalnya. Kamu pergi ketempat dia juga tak pamit padaku. Malam itu, aku marah, aku kecewa. Hingga aku mengatakan hal yang membuatku kehilanganmu. Maafkan aku, Al. Harusnya malam itu kamu bilang kalau kamu sakit. Kalau sahabat-sahabatmu tak mencarimu kesini, aku tak akan tau jika kamu sakit dan pergi dari rumah sakit. Maafkan aku, Al, maafkan semua sikapku selama ini padamu.”

Dia menangis, berlutut di hadapanku memohon maaf. Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung.

“Jangan pergi lagi, Al. Aku mohon. Jangan pergi lagi. Aku kacau tanpamu, Al. Aku nggak sanggup jika harus kehilanganmu lagi, Al. Aku mohon, jangan pergi lagi, Al. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku mencintaimu, Al. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Maafkan aku, yang tak pernah jujur padamu.”

Apa dia bilang? Dia mencintaiku? Inikah akhir dari kisah sedihku? Haruskah kumaafkan dia? Haruskah aku bahagia? Perlahan, kupeluk tubuhnya, kutenangkan dia. Kutangkup wajahnya, kuhapus air matanya. 

“Jangan menangis lagi, Cel. Aku memaafkanmu. Sebelum kau meminta maaf, aku sudah memaafkanmu. Aku tak akan pergi. Berjanjilah, jangan bersikap seperti itu lagi padaku.”
Aku menangis. Ingin kukeluarkan semua beban di hatiku, tapi aku tak sanggup. Kuharap lewat tatapan mataku, dia bisa mengetahui apa yang aku rasakan. Aku mencintainya, terlalu mencintainya.

“Soal Rachel. Tak seharusnya aku menyalahkanmu. Itu bukan salahmu, Al. Keadaan yang membuat dia seperti itu. Aku tak tau kalau dia yang selama ini mencelakaimu. Aku tak sudi jika harus menikah dengan dia. Aku bersyukur dia tak ada lagi. Mama hampir masuk rumah sakit karena diancam olehnya. Kenapa kamu tak bilang padaku kalau dia tak baik padamu, huh? Dari awal hingga nanti maut memisahkan kita, kamu milikku, Al. Selamanya milikku. Aku tak pernah mencintai Rachel. Aku bersamanya karena dia memaksaku. Wanita itu benar-benar gila. Maafkan aku yang tak bisa melindungimu selama ini.”

“Hari dimana kejadian itu terjadi, sebenarnya aku sedang mempersiapkan lamaran romantis untukmu. Tapi, tak kusangka, dia mengetahuinya. Entah dengan tipu daya apa, dia berhasil memintamu datang, dan hampir membuatmu celaka. Dan beruntunglah bukan kamu yang meninggal, tapi dia. Aku mengkhawatirkanmu, Al, kamu tak bisa kuhubungi dan tiba-tiba polisi menghubungki, mengabarkan kamu ada di kantor polisi. Aku panik, Al. Kamu tau sendirikan, gimana kalau aku panik, aku marah-marah tak jelas. Undangan itu pun bukan aku yang membuatnya. Itu akal-akalan dia, Al. Dia tak ingin apa yang dia suka menjadi milik orang lain. Itulah kenapa dua minggu setelah kematiannya, aku nekat memintamu untuk menjadi istriku. Mungkin saat itu kamu berpikir kamu menjadi penggantinya. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi penggantinya. Selamanya kamu adalah istriku, milikku. Bukan pengganti siapa-siapa. Padamu aku memilih meletakkan hatiku, Al. I Love You, baby.”

Aku menangis mendengar pengakuannya. Kucari di kedua matanya kebohongan dari pengakuannya. Tapi, tak kutemukan. Yang kutemukan hanya kejujuran, kelegaan, dan cinta. Hah? Cinta? Benarkah ini? Dia meraihku ke dalam pelukannya, menenangkanku yang tak berhenti menangis.

“Jangan menangis lagi, Al. Aku tak sanggup melihatmu menangis seperti ini. Katakan padaku, Al, apa yang kamu rasakan padaku?”

“Aku.. hiks.. hiks.. aku sungguh tak tau jika kamu mencintaiku sedalam itu. Jika kamu tak pernah menjadikanku pengganti dalam hidupmu.. hiks.. Aku juga mencintaimu, Marcel.”

Terucaplah sudah apa yang aku rasakan selama ini. Dia tersenyum senang. Tatapan matanya yang tadinya lembut perlahan berubah menjadi tatapan lapar. Eh? Kenapa dia menatapku seperti itu? Aku bukan makanan kan? Apa dia masih lapar? Kenapa tatapannya berubah menjadi lapar begitu?

“Alya, karena semua permasalahan diantara kita sudah selesai. Dan aku tak ingin kamu menangis sedih lagi. Bolehkah hari ini kuminta hakku sebagai seorang suami? Mulai hari ini, apartemen ini dan segala miliknya adalah milik kita berdua. Kamu boleh mendesainnya, boleh mengaturnya. Kamar itu milik kita. Semuanya milik kita. Aku tak akan melarangmu bekerja, tapi kumohon jangan melebihi jam kerjaku. Aku ingin pulang disambut istriku.”

Aku tertawa kecil mendengar permintaannya. Sudah saatnyakah aku memberikan haknya sebagai suami? Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaannya. Dan hari itu, hari bersejarah untuk kami. Ikatan yang sempat hampir putus kembali terajut. Dan ikatan itu akan membentuk sebuah ikatan baru dalam keluarga kami. Dan aku harap itu selamanya.

--- 000 ---

Nikmatilah hari ini dengan penuh pengharapan. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari.
-         Alya & Marcel –

--- 000 ---
28 Januari 2015

Ide dari cerita ini terlintas begitu saja di otakku sewaktu perjalanan kembali ke rumah. Hanya menuangkannya ke dalam cerita dan percakapan yang lumayan agak susah.
Aku dedikasiin buat mbak Ikadelia. Lagi greget banget sama ceritanya Disty-Aldo. Konfliknya jangan parah-parah yaaa, mba. Bisa nangis bombay nanti saya :)
Selamat membaca, semua :) semoga kalian suka yaaa
4 comments on "Kamu Milikku Selamanya"
  1. suka nih kalo endingnya begini hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Happy ending yaa, mba? hehehe... Tapi, saya pas nulis, malah sakit hati sendiri, terlalu mendalami sepertinya hehehe

      Delete

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature