17 January 2024

Ngopi Cantik bareng Pradnya


Hola, teman-teman

 

Apa kabar kalian? Jaga kesehatan selalu yaa, teman-teman. Rubrik Ngobrol Bareng alhamdulillah, hadir kembali minggu ini. Yuks, kalau ada yang mau aku ajakkin ngobrol bareng di blog ini boleh langsung kontak aku via email yaaa..

 

Teman kedua yang hadir kali ini adalah kak Pradnya, seorang penulis novel yang banyak mengeluarkan karya-karya ciamik yang bikin hati baper, ada yang udah baca karya beliau? Sambil ngopi cantik bareng kak Pradnya, mari kita simak yuk obrolan kami berdua.

 

Halo, kak Pradnya, apa kabar? Lagi sibuk apa nih sekarang?


Halooo, kabar baik. Alhamdulillah.

Sibuk apa ya hahahahah biasalah, sibuk ngejar deadline revisian, sibuk ngehaluin naskah baru, sibuk mikirin mana dulu yang harus direvisi setelah yang satu selesai. Sibuk banget pokoknya hahahahah


Kak pradnya, ijin yaa, aku nanya-nanya tentang kegiatan kakak, istilahnya kepoin sedikit lah, siapa tahu aku dapat bocoran soal apa gitu, eh, apa ini maksudnya.


Siaaaapppp


Kalau boleh tahu, kak Pradnya ini sudah berapa lama menggeluti profesi sebagai penulis? Cerita awalnya itu gimana sih, kak, kok bisa tiba-tiba nyemplung ke dunia literasi ini?


Lama banget! Lebih lama dari sinetron Tukang Bubur Naik Haji kayaknya XD


Kalau kepenulisan profesional, aku menerbitkan buku pertama itu di tahun 2012. Tapi kalau kapan mulai nulis, sepertinya sejak bangku SMP (medio tahun 2004-2005) gitu. Wkwk ketahuan deh umurnya. 


Dari kecil aku emang suka baca sih. Dulu aku langganan majalah Bobo dan Mentari, terus ke mana-mana mintanya dijajanin buku. Aku bahkan pilih nggak ikut study tour SMA biar duitnya bisa buat belanja buku. Mungkin dari situ aku mulai suka nulis juga (sebenarnya, aku lupa beneran gimana awal mula aku mulai nulis T_T). Awalnya aku nulis di buku tulis sidu wkwk pembacanya ya teman-teman sekelas. Eh, ternyata pada suka. Jadilah aku lebih effort dengan merapikan karya-karyaku yang ditulis di buku sidu tadi dan menulis ulangnya ke kertas HVS yang kubuat seukuran novel (maklumlah ya, zaman dulu nggak ada tuh cetak buku self published 😀)


Setelah aku kuliah di kota besar (ini harus banget dimention soalnya perannya sungguh signifikan), informasi lebih mudah dicari, begitu juga teknologi. Nah, aku mulai merapikan naskah-naskahku lagi dengan komputer, lalu coba-coba mengirimkannya ke penerbit. Langsung diterima? Jelas TIDAAAAKKKK hahahahah mana zaman dulu itu kirimnya harus harcopy, dan naskah yang ditolak akan dikembalikan. Makanya, aku masih punya satu kardus besar yang isinya print naskah-naskah tertolak itu 🙁


Biasanya, kakak suka meluangkan waktu untuk menulis itu berapa jam dalam sehari? Terlebih lagi kan kayak juga punya kesibukkan lain di dunia nyata nih yaa.


Menulis apa dulu, nih? Soalnya semua kerjaanku berhubungan dengan dunia tulis menulis sih 😀


Sebenarnya nggak tentu juga. Kalau lagi rajin, aku bisa seharian nulis terus. Tapi kalau lagi malas atau keasyikan baca buku, berhari-hari bisa bolong nulisnya. Lagi pula, aku bukan tipe penulis yang diam di depan laptop (kecuali kalo lagi revisi). Aku biasa nulis di HP. Jadi aku bisa nulis kapan aja, kayak pas nungguin pesanan pecel lele, nunggu antrean kasir, nganterin ibu berobat, macam-macamlah. Jadi, sulit untuk menghitung berapa jam aku menulis per harinya.


Biasanya untuk satu naskah cerita itu sendiri, ada target untuk menyelesaikannya nggak, kak? Misalkan, naskah cerita A harus aku selesaiin dalam waktu berapa minggu atau bulan gitu, kak


Sebagai penulis yang baik, harusnya ada ya, tapi gimana dong kalau emang nggak ada? 😆


Kalau ngikutin ceritaku di Wattpad, itu beragam banget. Ada yang selesai dalam waktu 3-4 bulan. Ada juga yang sampai 3 tahun belum selesai. 


Ahh, aku tahu, yang ceritanya belum selesai, yang dari ide aku dulu juga belum selesai juga kan yaa, kak? hehehe. Untuk ide cerita dari beberapa cerita yang udah kakak tulis itu biasanya terinspirasi dari mana nih, kak? Apakah misalkan nih, aku curhat sama kakak, terus bisa dijadikan bahan buat cerita kakak selanjutnya gitu?


Inspirasinya dari mana-mana. Ada yang dari potongan-potongan film atau buku, ada dari hal-hal yang aku lihat secara nggak sengaja, ada juga curhatan teman (bisa nih, kalau mau curhat, nanti aku jadikan plot sinetron wkwk), bahkan ada yang dari mimpi. Hahahah serius iniiii. Aku tuh beberapa kali mimpi ngerjain sebuah plot naskah. Jadi, pas bangun tidur aku langsung dicatat di HP, biar nggak keburu lupa. Nggak tahulah itu namanya mimpi atau apa.


Dari mimpi, kak? Keren, banget lhooo. Nah kalau untuk setiap naskah cerita yang kakak tulis nih, apakah ada kesulitan nggak, kak, dari proses menulis, risetnya mungkin sampai akhirnya bayinya mau terbit gitu?

Tentu saja banyak. Mulai dari menentukan garis besar cerita (karena biasanya ide muncul cuma dalam satu baris kalimat problem aja), mengembangkan cerita, mengembangkan karakter, ngatur munculnya konflik, dll, itu semua butuh dipikirkan dulu sebelum mulai nulis. Riset adalah another level of challenge. Kadang hal-hal kecil kayak gaya rambut pun bisa butuh riset yang lumayan menyita waktu. 


Karena aku penulis romance, yang paling menantang itu riset soal profesi tokoh, apalagi kalau nggak kenal seseorang yang bisa jadi narasumber langsung. Harus gerilya nyari secara terbuka, atau berakrab-akrab dengan Google. Punya narsum langsung pun tantangannya adalah memahami dunia yang mungkin nggak aku kenal sama sekali. Dan itu susah! Misalnya waktu nulis novel Algoritme Rasa aku harus riset soal profesi backend developer, mempelajari dunia IT yang macam rahasia semesta buatku. Hahaha gumoh-gumoh deh. Kenapa harus mempelajari teknis-teknisnya, menurutku itu penting supaya profesi ini bisa nge-blend dengan cerita, bukan sekadar tempelan aja.


Boleh nggak nih, kak, kasih tahu ke teman-teman pembaca semua, novel yang udah kakak tulis, yang sampai sekarang jadi favorit kakak itu yang mana, dan kenapa?

Waduuh, pertanyaan yang sulit. Berasa emak-emak pilih kasih dong aku hahahahha


Kalau dari segi riset yang memuaskan banget bagiku adalah Algoritme Rasa.

Kalau dari segi plot dan cerita, aku suka Di Mimpi Tempat Kita Berjumpa

Dari segi karakter aku paling suka Parafrasa Rasa

Dari segi respons pembaca dan emosional yang tumpah-tumpah paling memuaskan adalah Tentang Kita yang Tak Mengerti Makna Sia-Sia


Aku penasaran sama hal ini, kak. Ada kesulitan sendiri nggak sih, kak, ketika kakak menerbitkan buku kakak dengan penerbit mayor atau saat kakak akhirnya memutuskan untuk self publish?


Kesulitannya tentu berbeda. Kalau dengan penerbit mayor, kesulitannya adalah aku harus mengikuti deadline dari mereka. Karena kalau di penerbit mayor kan sudah ada timeline masing-masing, dan banyak pihak yang terkait, jadi sebisa mungkin harus memenuhi deadline dan timeline, meski kadang kurang sesuai dengan waktu kita, misal bentrok dengan naskah lain, terlalu mepet, dll.


Kesulitan lainnya, kalau sama penerbit mayor aku sering insecure dan tekanan mental takut kalau bukuku nggak laku HAHAHAHAH Aku nggak tahu sih apakah penulis lain merasakan ini atau nggak, tapi aku tuh sering merasa nggak enak gitu kalau sampai bukuku yang terbit mayor nggak laku. Semacam mikir, duh udah berapa banyak biaya yang dikeluarkan, gimana kalau mereka rugi, bla-bla bla.


Kalau untuk self-published, di satu sisi lebih fleksibel, tapi semua-semuanya harus dipikirkan sendiri. Mulai dari nyari editor (atau gimana biar naskahnya benar-benar “baik” sebelum dicetak), bikin cover (ini juga harus modal duluan), nentuin harga, tanggal, milih percetakan, promo, sampai milih jenis kertas pun bisa bikin galau berhari-hari. Nah, tantangan dari self publish ini adalah konsistensi, menurutku. Karena kita bikin deadline sendiri, kita harus menepatinya (dan ini susah wkwk). Selain itu, kalau SP itu perjalanannya panjang. Jika mayor, tanggung jawab penulis bisa dibilang “selesai” setelah setor naskah final, kalau SP, setelah naskah diedarkan pun kita masih harus menunggu info misalkan ada kesalahan cetak, buku rusak, dll, yang mana harus kita selesaikan sendiri.


Tapi so far, menurutku baik mayor maupun SP, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri.


Saat kakak menulis novel ada nggak sih, kak, yang ingin kakak sampaikan, pesan-pesan mungkin, buat pembaca kakak?

Kalau pesan yang tersirat, aku yakin para pembaca sudah bisa menangkap pesan-pesanku melalui setiap cerita yang aku tulis. Nah, untuk pesan secara umum, marilah kita menjadi pembaca yang bijak. Sebagai penulis, aku sangat terbuka atas kritik dan saran, selama disampaikan dengan baik dan sopan. Dan tentu saja, jangan beli buku bajakan, ya. Mari kita jadi pembaca yang bijak yang mampu menghargai orang lain. Sedih euuyyy, hasil kerja berbulan-bulan (bahkan bertahun-tahun) dibajak orang dan dihargai 900 perak 😭


Eh iya, itu bikin aku juga sedih, sebagai salah satu orang yang punya toko buku online, suka sedih, kalau dibandingin sama toko online lain yang mana jualannya buku bajakan, dan hanya satu kalimat aja dari customer yang bilang, "Kak, kok disana lebih murah yaa, 20 ribu." Disitu aku menangis.

 

Okey, satu lagi yaa, kak, boleh dong bagi tips dan triknya buat teman-teman semua yang ingin bisa seperti kak pradnya menulis cerita hingga bisa terbit di penerbit mayor maupun saat kakak self publish?

Tipsnya apa ya 😀. Sebenarnya, sekarang itu buat nerbitin buku sangat gampang. Kalau nggak bisa mayor, kan bisa SP. Yang susah itu menerbitkan karya yang bagus. Naaah, jadi daripada memberi tips tentang menerbitkan buku (yang pasti udah banyak di luar sana), aku lebih menyarankan para penulis untuk rajin-rajin menulis dan juga membaca. Harus konsisten. Jangan patah semangat kalau karya kita mendapat penilaian yang buruk. Jangan malas belajar, karena nulis juga butuh ilmu lho. Jangan takut mengoreksi naskah sendiri, karena biasanya draf pertama itu memang “nggak bagus” wkwkwkw. Tapi dari situ kita bisa memperbaiki dan memolesnya menjadi naskah yang keren. Satu lagi, jangan pernah berpikir kalau teknis itu nggak penting, atau “itu tanggung jawa editor” atau “ah, teknisku berantakan tapi kan yang baca banyak”. Mengerti teknis menulis yang baik is a must, menurutku. Itu semacam tanggung jawab pribadi, sama seperti ketika kita menyajikan materi dalam cerita yang kita tulis.

 

Gimana hasil ngobrol bareng kak Pradnya? Asyik kan? Seru banget kan? Jadi, nambah inputan soal gimana cara menerbitkan tulisan ke dalam buku kan yaa? Nambah ilmu juga kan mengenai menerbitkan buku secara mayor maupun self publish. Jadi, tambah bikin nggak sabar buat segera meluncur ke akun sosmed maupun blognya kak Pradnya buat baca postingan serunya. Aku udah lho, kamu?

Makasih banyak kak Pradnya, udah bersedia aku ajakkin #NgobrolBareng di blog My Scrap Book. Sukses selalu untuk kak Pradnya yaaa. Menunggu novel kakak selanjutnya, can’t wait! Eh, kapan mulai PO novel baru lagi, kak?

 

Untuk kenalan lebih lanjut dengan kak Pradnya, kalian bisa langsung kunjungi akun sosmed dan blog kak Pradnya yaaa

 

@katapradnya | katapradnya 

4 comments on "Ngopi Cantik bareng Pradnya"
  1. wah kak, aku suka banget sesi interview eksklusif ini, aku baru baca yang ini masa. keren bettt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asik kan, kak, mau kuajak ngobrol bareng?

      Delete
  2. wishlist aku dari dulu nerbitin novel sendiri. selama ini masih antologi.
    Dulu hobiku mencatat alamat dan ketentuan pengiriman naskah ke penerbit, sampe hapal nama-nama penerbit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang nulisnya di platform aja, kak. Feel free to ask me about naskah yaaa

      Delete

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature