24 January 2024

Perjalanan Menjadi Editor: Pelajaran dari Jia Effendie

 

Hola, teman-teman
 
Tanpa terasa, sudah masuk hari ke dua puluh empat di bulan Januari. Apa kabar kalian semua? Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat selalu yaa. Rubrik Ngobrol Bareng alhamdulillah, hadir kembali minggu ini. Yuks, kalau ada yang mau aku ajakkin ngobrol bareng di blog ini boleh langsung kontak aku via email yaaa..
 
Hari ini, aku kedatangan tamu istimewa, seorang editor ternama, Jia Effendie, yang pastinya mungkin di antara kalian sudah ada yang pernah bertemu dengan beliau. Atau ada yang memiliki mimpi suatu hari nanti naskah kalian disunting oleh beliau? Mari kita belajar menjadi editor bareng kak Jia Effendie yuk

 

Halo, kak Jia, apa kabar? Sebelumnya, terima kasih banyak, kak, atas kesediaan kayak mau aku ajak ngobrol bareng di blog aku. Lagi sibuk apa nih, kak, sekarang?

 

Alhamdulillah kabar baik nih 


Kak Jia, izin yaa, aku mau nanya-nanya tentang kegiatan kakak, kepo sedikit tentang kakak, siapa tahu bisa sambil menimba ilmu mengenai dunia literasi

 

Boleh, silahkan


Sebelumnya nih, aku pingin tahu, kalau diijinkan sama kakak, awal mula kakak terjun di dunia literasi ini gimana sih, kak? Kemudian sudah berapa lama kakak menggeluti profesi sebagai seorang editor?


Sebenarnya, kehidupanku sejak kecil sudah dekat sekali dengan dunia literasi karena kedua orang tuaku pernah menjadi penulis dan ayahku pernah menjadi editor di salah satu penerbitan di Bandung. Aku sudah jadi kutu buku sejak balita dan mulai menulis sejak SD dan memang bercita-cita jadi penulis hahaha. Tulisan pertamaku dimuat di majalah nasional waktu SMA dan rasanya senang sekali walaupun honornya nggak tahu diterima sama siapa. Jadi, jalur hidupku memang kuarahkan untuk bekerja di dunia yang ada hubungannya sama buku.


Lulus kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan 20 tahun lalu, aku jadi pustakawan di SCTV, tetapi ternyata jadi pustakawan bukan panggilan hidupku. Akhirnya, 2009 aku melamar jadi editor di Penerbit Atria, imprint Penerbit Serambi dan diterima. Berarti sekarang sudah 15 tahun jadi editor. 


Aku pengin tahu nih, kak, yang dimaksud dengan editor itu tugasnya apa aja sih, kak? Kemudian proofreader sendiri itu apa, kak? Atau ada istilah lain di lingkup pekerjaan kakak yang mungkin bisa dibagikan ke teman-teman semua, siapa tahu ada yang berminat untuk bekerja di dunia yang sama dengan kakak. Ataukah ada skill khusus yang harus dimiliki oleh seorang editor?


Intinya sih gini: editor itu bertugas mencari, mengembangkan, dan menerbitkan naskah. Kalau di Amerika, editor itu kadang-kadang disebut juga sebagai publisher atau penerbit. Jadi, pekerjaannya bukanlah sekadar memperbaiki salah tik atau typo. 


Sewaktu aku masih jadi editor in-house, waktuku mengedit bahkan lebih sedikit daripada pekerjaan keliling-keliling cari penulis dan naskah yang potensial untuk dikerjakan dan memikirkan konsep terbitan. 


Menurutku, sih, editor terutama harus banyak membaca genre apa pun dan memiliki keterampilan menulis. Jadi, kalau editor nggak kutu buku, sepertinya sulit sih menjadi editor yang baik. Hal-hal lain yang harus dipelajari tentu saja soal bahasa. Kalau kita menyunting dalam bahasa Indonesia, kita harus menguasai tata bahasa Indonesia, tahu bagaimana cara menyusun kalimat efektif, tahu Ejaan yang Disempurnakan (EYD), tahu harus mencari ke mana untuk memeriksa apakah suntingan kita sudah baik secara bahasa. Hal lain yang penting, untuk editor fiksi, tentu saja harus memahami elemen-elemen fiksi, yaitu plot, karakterisasi, seting, POV. Selain itu, editor juga harus tahu struktur naratif. Cerita-cerita seperti apa yang berhasil memikat pembaca? Seperti apa strukturnya? 


Itu keterampilan terkait menyunting, ya. Hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan penulis. Jadi, ya, anggapan kalau editor itu kerjaannya benerin typo itu salah banget.


Oh ya, ini tautan-tautan yang sebaiknya dibookmark:

 

  1. EYD: https://ejaan.kemdikbud.go.id/

  2. KBBI VI: https://kbbi.kemdikbud.go.id/Beranda

  3. Tesaurus buat ngecek sinonim kata: https://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/

  4. Download buku Penyuluhan Bahasa Indonesia di sini: https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/produk-detail/740/buku-seri-penyuluhan


Biasanya sebagai seorang editor, memiliki timeline masing-masing dalam menyelesaikan sebuah naskah cerita yang menjadi asuhannya, kalau kak Jia sendiri gimana, apakah sudah ada pakem timeline yang kakak terapkan ke dalam sebuah naskah editing, atau timeline yang kakak berikan kepada penulis yang tulisannya sedang kakak edit atau gimana, kak? Kemudian, cara membagi waktunya antara kesibukan kakak sebagai editor dengan kehidupan kakak di dunia nyata itu gimana, kak?


Aku mengikuti “aturan” pekerjaan pertamaku sebagai editor. Biasanya tuh editing pertama (development editing) dikerjakan dalam waktu dua minggu (walaupun sekarang aku bisa baca satu naskah sehari dan langsung ngasih catatan revisi). Setelah itu, biasanya aku memberi waktu kepada penulis untuk merevisi dalam waktu dua minggu (seringnya sih bisa sampai sebulan, tiga bulan, atau bahkan ada yang nggak balik-balik lagi sampai sekarang, udah 10 tahun hahaha). Setelah itu, aku akan melakukan editing kedua (line editing dan copy editing) kurang lebih semingguan dan mengembalikannya ke penulis untuk revisi kedua. Kalau di penerbitan, biasanya setelah editor menganggap naskahnya layak terbit, akan langsung masuk pracetak untuk layout dan setelah itu dicek lagi oleh editor lain (proofreading). Jadi, tektokan editing ini lumayan makan waktu.


Sekarang kan aku kerja sebagai editor lepas, jadi lebih bisa mengendalikan waktu, sih. Kalau lagi banyak kerjaan, ya aku akan menolak permintaan editing dari calon klien atau minta mereka menunggu sampai proyek yang sedang kukerjakan selesai. 


Untuk naskah-naskah yang sedang kakak sunting, biasanya ada kesulitan tersendiri nggak, kak, dari berbagai macam jenis naskah tersebut? Kemudian untuk proses sebuah naskah dari kakak terima hingga menjadi sebuah buku yang diterbitkan gitu, biasanya berapa lama, kak?


Untuk saat ini sih aku nggak mengalami kesulitan menyunting karena aku pernah mengerjakan naskah dari penulis yang baru pertama banget nulis novel, sampai para profesional yang sudah puluhan tahun menulis.  Hal yang lebih sulit sesungguhnya ketika berkomunikasi sama penulis dan berhadapan dengan berbagai karakter mereka. Banyak proyek yang mangkrak karena biasanya penulis kehilangan energi atau semangat untuk meneruskan tulisannya, atau mereka mengalami sesuatu yang besar dalam hidup mereka sehingga terpaksa berhenti menulis. 


Aku akan sebisa mungkin jadi cheerleader mereka, tetapi kalau mereka sudah kehilangan minat biasanya ya mau disemangati gimanapun nggak ngaruh.


Nah, kalau ini, aku penasaran nih, kak, secara sudah banyak sekali novel yang kak Jia tangani, kalau boleh tahu, dari sebanyak novel tersebut, adakah yang menjadi favorit kayak hingga saat ini, dan kalau boleh tahu kenapa nih?


Novel favorit yang pernah kukerjakan? 

Hmmm, susah sih ya memilih dari 250-an judul. Saat ini nggak ada yang paling favorit, sih. 


Kalau penulis favorit kakak, kalau boleh tahu siapa aja nih, kak? Kenapa nih? Apakah salah satu penulis favorit kakak tersebut pernah ada yang kakak menjadi editonya? Atau ada impian yang ingin kakak wujudkan di sepanjang karir kakak sebagai seorang editor? Misalkan, pingin menjadi editor penulis Eka Kurniawan.


Penulis yang bukunya akan kucari kalau dia menerbitkan buku: Dee Lestari.

Sekarang, sih, udah nggak punya impian menyunting naskah penulis tertentu karena sudah tercapai ketika menyunting trilogi Rapijali. 


Wahh, keren, salah satu buku wishlist aku ini trilogi Rapijali. Lanjut lagi yaa, kak. Sambil minum atau makan dipersilahkan yaa, kakak. Boleh nggak nih, kak, dijelaskan sedikit mengenai perbedaan novel yang terbit secara mayor, self publish, indie? Siapa tahu ada yang belum memahami perbedaan tersebut?



Mayor

Indie

Self-publish

Waktu terbit

Menyesuaikan jadwal penerbit

Sepertinya bisa disesuaikan, sih, tergantung kesepakatan dengan penerbit indie

Penulis yang menentukan

Biaya

Gratis

Beberapa penerbit indie memberikan paket penerbitan yang harganya bisa disesuaikan dengan kantong kita.

Semua biaya ditanggung penulis, mulai dari editing, layout, cover, proofreading, cetak, marketing, dll.

Jumlah cetakan pertama

Saat ini, cetakan pertama sekitar 1000-1500 eks (dulu sih ya waktu aku masih kerja di penerbitan, standar cetakan pertama tuh 3000-4000 eksemplar, tapi untuk apa membicarakan dulu huhuhu)

Tergantung paketan yang diambil penulis 

Penulis yang menentukan sesuai kemampuan dia menjual

Distribusi

Biasanya didistribusikan ke jaringan toko buku besar, toko-toko buku kecil, toko buku online, reseller

Beberapa penerbit mendistribusikannya ke jaringan toko buku besar, tetapi lebih banyak menggunakan jasa reseller

Sulit masuk jaringan toko buku besar kecuali dengan bantuan distributor. Namun, penulis dengan kekuatan basis pembaca yang besar biasanya menjual sendiri bukunya.

Peran penulis

Penulis (terutama yang baru) harus banyak berkompromi dengan kepentingan penerbit

Penulis bisa menentukan pada area-area tertentu

Penulis yang menentukan semua hal terkait penerbitan

Royalti/penghasilan

8-12%, tergantung penerbit dan jenis buku, dibayarkan 6 bulan sekali, dipotong pajak royalti 15%. Umumnya sih royalti dipukul rata 10%

Tergantung kesepakatan dengan penerbit, tetapi biasanya pakai besaran 10%

Penulis bisa mendapatkan 40-50% dari harga jual. Penghasilan akan lebih besar lagi jika penulis memiliki basis pembaca yang kuat. 



Sebelum aku akhiri yaa, kak. Boleh dong, kak, bagi tips dan triknya untuk teman-teman semua yang saat ini sedang menulis cerita dan ingin berkarir sebagai seorang penulis, dan ingin menerbitkan buku. Juga pesan-pesan untuk teman-teman semua.


Pesanku untuk calon editor dan penulis, banyak membaca dan pelajari buku-buku bagus (juga buku-buku jelek untuk mencegah diri kita mengerjakan buku jelek). Jangan berhenti belajar walaupun sudah berpengalaman. Terus, kalau aku bikin kelas, ikutan, dong! 


Gimana hasil ngobrol bareng kak Jia? Asyik kan? Seru banget kan? Nambah ilmu kan buat kalian yang lagi galau pengin jadi editor, bisa sambil belajar kan jadinya. Atau kalian yang punya naskah, bisa diterapkan juga ilmu dari kak Jia mengenai editing itu gimana. Makin nggak sabar buat ikutan kalau kak Jia buat kelas. 
 

Makasih banyak kak Jia, sudah bersedia aku ajakkin #NgobrolBareng di blog My Scrap Book. Sukses selalu untuk kak Jia yaaa. Aku masih menanti wishlist Trilogi Rapijali terpenuhi.

 

Untuk kenalan lebih lanjut dengan kak Jia, kalian bisa langsung kunjungi akun sosmed kak Jia yaaa

 

@JiaEffendie | JiaEffendie 

Be First to Post Comment !
Post a Comment

Tulis komentarmu dengan bahasa yang sopan dan tinggalkan Nama/URL yaa, biar bisa langsung saya BW :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature